Saya teringat sekitar tahun 2010, ketika masih mahasiswa strata 1 di jurusan Tafsir dan hadis UIN Sunan Kalijaga, Dr. Phil. Sahiron dalam sesi perkuliahannya mengenalkan kajian Alquran di Barat. Itulah kali pertama saya mendengar Corpus Curanicum yang merupakan proyek penelitian Alquran di Berlin, Jerman.

Siapa sangka pada tahun 2017, ketika mengikuti program short courseLife of Muslim in Germany”, saya bisa berkunjung ke proyek ini. Bukan sekedar kunjungan biasa, tetapi kami mendapatkan sambutan hangat oleh Michael Marx yang mewakili Prof. Angelika Neuwirth, peneliti yang juga manager proyek ini. Pada kesempatan tersebut, Marx mempresentasikan secara gambang tugas proyek ini.

Perlu saya sampaikan lebih awal bahwa Prof. Angelika dan Michael Marx adalah dua di antara sarjana Barat yang mengkritik temuan para sarjana Barat sebelumnya. Mereka mengkaji Alquran tidak secara polemis, tetapi tetap berpegang pada prinsip objektif. Inilah yang menjadi bagian dari proyek Corpus Coranicum.

Sebelumnya, pada satu sesi perkuliahan di Goethe-Institut Berlin, Daniel Bax juga menjelaskan kepada kami asal-mula bersentuhannya Jerman dengan dunia Islam. Sejak abad ke-12, Barat mulai bersinggungan dengan kajian Alquran. Persentuhannya dimulai dengan terjemahan Alquran dalam bahasa-bahasa Eropa. Namun, di antara kajian Alquran di Barat, Jerman lah negara paling representatif. Jerman memiliki sejarah yang panjang dalam kajian Alquran. Banyak karya kajian Alquran dengan beragam metode dan pendekatan yang telah dihasilkan para sarjana Jerman.

Perkembangan Trend Kajian Alquran di Barat

Kajian Alquran terus mengalami perkembangan. Demikian juga di Jerman, penelitian yang menempatkan Alquran sebagai objek cukup dinamis dan berkesinambungan. Semangat melakukan penelitian Alquran telah melahirkan beragam karya. Harus diakui mereka memposisikan Alquran bukan pada posisi sakral dan bernilai religius sebagaimana orang muslim. Mereka lebih cenderung melihat Alquran sebagai sesuatu yang bisa didekati dengan berbagai pendekatan sosial-humaniora.

Fazlur Rahman, seorang pemikir Islam, dalam pengantar bukunya Major Themes of the Quran telah mengenalkan sepintas ragam literatur Barat dalam kajian Alquran. Ada tiga kategori, pertama, karya-karya yang berusaha mencari pengaruh Yahudi-Kristen di dalam Alquran. Kedua, tentang kronologis ayat-ayat Alquran. Ketiga, aspek-aspek tertentu dalam Alquran.

Dalam perkembangannya menurut Pak Nur Kholis Setiawan dalam buku ontologi “Orientalisme Alquran dan Hadis”, karya-karya tersebut dapat dipetakan dalam empat trend. Pertama, ranah kajian sejarah teks Alquran. Kedua, kajian terjemahan Alquran. Ketiga, karya yang mengkaji konsep-konsep Alquran. Keempat, bagaimana Muslim memahami dan menafsirkan teks Alquran. Tampaknya kajian pada ranah sejarah teks Alquran cukup banyak digandrungi pada masa awal.

Baca Juga:  Puasanya Orang-orang Urban

Sarjana Jerman yang bisa disebut dalam ranah kajian teks Alquran di abad modern adalah Abraham Geiger (1810-1874) dengan buku, Was hat Muhammad aus dem Judentum aufgenommen (Apa yang telah diambil Muhammad dari Yahudi). Namun karya ini masih dianggap sebagai karya polemis yang berangkat dari sikap subjektif mencari-cari kelemahan kitab suci kaum muslim. Setelahnya, Theodore Nὂldeke (1836-1930) melahirkan karya yang cukup akademis yaitu Geschichte des Koran (Sejarah Alquran). Lalu muncul Wilhelm Rudolf (w. 1978) yang menulis  Die Abhangigkeit des Koran von Judenthume und Christentum (Ketergantungan Alquran dari Yahudi dan Kristen).

Karya Nὂldeke fokus pada kronologi ayat atau surah dan sistematikanya. Beberapa sarjana memuji karya Nὂldeke dan tidak sedikit yang melanjutkan kajiannya. Walaupun karya Nὂldeke dan pergikutnya tidak lagi polemis, mereka berangkat dari anggapan Alquran dikarang oleh Nabi Muhammad Saw. Inilah yang berbeda dan ditentang dari tradisi klasik sarjana Muslim.

Penelusuran jejak-jejak kajian Alquran di Jerman mempertemukan saya dengan Fadhli Lukman, intektual muda asal Padang yang saat itu sedang menyelesaikan program doktoralnya di Jerman. Menurutnya, kemunculan beberapa karya akademis dalam studi Alquran berkaitan dengan semangat riset dengan metodologi ilmiah di masa renaissance. Nὂldeke misalnya, menggunakan metode filologi dimana saat itu pendekatan ini sedang digandrungi dalam studi-studi teks di Eropa.

Artinya kajian Alquran akan semakin beragam dan berkembang mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan. Saya teringat saat mengikuti kuliah umum di UIN Sunan Kalijaga tanggal 14 Agustus 2017. Prof. Felix Karner yang juga kelahiran Jerman menyampaikan tema tentang Contemporary Quranic Studies in Europe. Prof. Karner mengenalkan setidaknya ada tujuh macam penelitian Alquran terbaru di Barat, pertama, textual criticism (kritik teks), kedua, source criticism (kritik sumber), ketiga, revival of revisionism (kebangkitan aliran revisionis), keempat, rhetorical analysis (analisis retoris), kelima, rezeptionsasthetik ( resepsi estetik), keenam, re-evaluations of classical Islam (tinjauan kembali sumber Islam klasik), ketujuh, theological interaction ( interaksi aspek teologi).

Bahkan pada akhir presentasinya, Prof. Karner mengajukan satu kajian baru dalam studi Alquran yaitu spritual reading of the Qur’anSpritual reading bukan bermaksud mendalami sisi esoterik atau batiniyyah Alquran. Ranah kajiannya pada aspek memahami dan menghargai, terbuka kepada orang lain dari tradisi keagamaan yang berbeda.

Baca Juga:  Cebong vs Kampret: Jahiliyah kontemporer

Kajian Alquran di Barat, terutama di Jerman, semakin memasuki babak baru. Kajian bernada polemik dan berusaha mencari kelemahan sudah melewati masanya. Banyak sarjana Barat justru mengkritik temuan-temuan sarjana Barat sebelumnya. Di antaranya, seperti Angelika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig mengkritik pandangan dan temuan bernada sentimen.Warna kajian Alquran semakin mengarah pada kesepahaman dalam memahami teks-teks dari berbagai kitab suci agama lain. Salah satunya muncul proyek penelitian Corpus Coranicum, yang selain meneliti aspek kesejarahan teks juga mencari titik persamaan teks-teks suci yang saling berdialog pada masa kemunculannya.

Sebuah Majlis Pengkajian Alquran di Pusat Kota Berlin

Corpus Curanicum adalah proyek penelitian yang disponsori oleh Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di kota Berlin. Saya iseng menyebutnya “Majlis Pengkajian Alquran” karena proyek ini fokus pada kajian akademik manuskrip dan teks Alquran.

Proyek Corpus Coranicum dimulai dari tahun 2007 dan akan berakhir tahun 2025. Jadi bayangkan betapa seriusnya orang Barat membiayai proyek penelitian yang bisa sampai beleasan tahun. Corpus Coranicum bersama beberapa proyek lainnya berpusat di gedung Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenchaften, sebuah lembaga akademik mengurusi persoalan sains dan kemanusiaan. Gedung ini berlokasi di jantung kota Berlin. Rasa penasaran saya memuncak ketika menaiki lantai tiga, nampak tulisan Corpus Coranicum. Di sana kami disambut dengan keramahan dan berdiskusi bersama Michael Marx.

Dari diskusi dengan Michael Marx, kita mendapatkan gambaran bahwa proyek ini punya misi yang jelas untuk mengkaji teks Alquran dengan pendekatan sejarah. Setidaknya ada tiga capaian yang ditargetkan.

Pertama, mengumpulan dan mendokumentasikan beberapa koleksi manuskrip Alquran awal dan menganalisis transmisi lisan (ragam qira’at) sebagaimana di dalam tradisi muslim, khususnya dari abad sepuluh dan sebelas. Dokumentasi manuskrip akan membantu untuk mengetahui penanggalan serta lokasi kesejarahan teks Alquran. Sedang dokumentasi berbagai penemuan ragama qira’at akan membantu mengetahui keseluruhan ragam variasi bacaan Alquran.

Baca Juga:  Tradisi "Basapa": Bukan Bid’ah-Syirik, Bukan Pula Islam Nusantara.

Kedua, mereka juga meneliti sumber-sumber teks dari berbagai agama yang muncul pada masa diturunkannya Alquran. Para peneliti akan menemukan sisi kesamaan teks Alquran dengan teks-teks yang lain. Setiap teks pada kurun masa yang sama akan berdialog pada masa kemunculannya. Menganalisis teks-teks suci yang ada di sekitar kemunculan Alquran akan membantu untuk merekonstruksi gambaran kondisi keagamaan dan spritual para komunitas Muslim awal di daerah Arab Timur.

Poin ini juga mununjukkan bahwa Alquran adalah kitab suci yang asli, bukan tiruan dari teks-teks suci pada masanya atau sebelum Islam. Alquran bukanlah tiruan dari kitab perjanjian lama maupun baru. Walaupun terdapat kesamaan pada aspek struktur teks dan isi, Alquran punya karakter dan dinamikanya sendiri.

Ketiga, proyek ini akan mempublikasikan hasil penafsiran sastrawi dan historis kritis dari dokumentasi teks maupun konteks dari teks Alquran, agar dapat memberikan gambaran struktur sastra dari teks Alquran. Dengan melihat struktur sastra dan kronologi teks akan mampu memberikan gambaran perkembangan wacana yang dibawa Alquran.

Mendengarkan pemaparan Mark dan semangat para koleganya membuat saya malu sebagai kaum muslim yang jauh meninggalkan kitab sucinya sendiri. Kita setiap hari membaca namun buta untuk mendalami kandungannya. Bahkan kadang melakukan dekontekstualisasi (cocokologi) demi kepentingan semu. Mereka justru mengkaji dan memahami dengan teliti. Tenaga dan waktu dicurahkan sepenuhnya untuk penelitian ini. Saya pribadi berdecak kagum akan kegigihan usaha mereka.

Tantangan ke Depan

Fazlur Rahman, seorang pemikir Islam, menberikan komentar, studi Alquran di dunia muslim sendiri tidak begitu berkembang. Penyebabnya kemungkinan dua. Pertama, kaum muslim kurang menghayati relevansi Alquran untuk masa sekarang. Karena itu, mereka tidak dapat menyajikan Alquran untuk memenuhi kebutuhan umat manusia masa kini. Kedua, mereka khawatir jika mengkaji Alquran sebagaimana yang dilakukan di Barat yang melibatkan berbagai pendekatan, akan menyimpang dari pendapat-pendapat yang telah diterima secara tradisional.

Penjabaran di atas setidaknya bisa memberikan gambaran dan inspirasi kepada kita para pengkaji, peneliti dan kaum muslim secara umum. Sebagian kita mungkin masih membayangkan kajian Alquran oleh para sarjana Barat akan mengoyak-oyak sakralitas Alquran, mempertanyakan keotentikan teksnya, atau meragukan kesuciannya bahkan memiliki agenda tersembunyi untuk menghancurkan Islam.

Hal itu memang benar ketika dulu masa awal, kajian yang berangkat dari sentimen subjektif untuk mencari kelemahan Alquran. Namun kajian oleh para sarjana Barat terutama di Jerman pada masa kini telah menunjukkan sikap objektif yang justru membantah anggapan negatif para sarjana Barat sebelumnya sekaligus membuktikan keotentikan teks Alquran yang diterima oleh Nabi Muhammad saw dari Allah Swt. Kajian Alquran tidak lagi bersifat polemik semata, tetapi berkembang ke arah dialogis-akademis.

Dari beragam kajian Alquran oleh sarjana Jerman dulu dan sekarang, memberikan satu suntikan semangat bahwa mereka adalah non-muslim tetapi memiliki totalitas tinggi untuk mendalami dan mengkaji Alquran. Semangat inilah yang seharus dibangun oleh kaum muslim sekarang.

Tinggalkan Balasan