Di Muhammadiyah ada dua Mansur yang disebut sebagai Bintang Timur dan Bintang Barat. Keduanya juga pernah menduduki posisi puncak sebagai Ketua organisasi Islam dengan amal usaha terbanyak itu. Bintang Timur yang dimaksud adalah Kiai Mas Mansur. Kiai yang berasal dari Surabaya, Jawa Timur ini menjabat sebagai Ketua Hoofbestoer Muhammadiyah pada periode 1937-1942. Saat pendudukan Jepang, Kiai Mas Mansur kemudian ditunjuk sebagai salah satu dari empat serangkai pemimpin PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara.

Adapun Bintang Barat adalah Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur. AR Sutan Mansur berasal dari Sumatera Barat. Ia dilahirkan pada tanggal 15 Desember 1895. Sewaktu muda berguru kepada Dr. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) salah seorang tokoh sentral dari gerakan Kaum Muda di Sumatera Barat. Ia kemudian diambil menjadi menantu oleh sang guru. Hamka dalam pengantar karyanya Falsafah Hidup menyebut Sutan Mansur, iparnya itu, sebagai orang kedua yang banyak membentuk pemikirannya, setelah ayahnya sendiri, Haji Rasul. Tidak berlebihan jika Hamka menyebut Falsafah Hidup sebagai karya yang dipersembahkan untuk iparnya tersebut.

Terkait kedua Mansur ini, Hamka punya penilaian yang menarik. Menurutnya Mas Mansur adalah seorang filsuf, jika ia berbicara maka ia mengajak pendengarnya untuk berpikir secara mendalam. Sasaran Mas Mansur adalah otak. Sementara Sutan Mansur sasarannya adalah relung-relung hati. Ia mengajak pendengar untuk meresapi. Jika Mas Mansur berbicara, maka tangan Sutan Mansur tak henti mencatat. Namun jika Sutan Mansur yang menjelaskan, Mas Mansur menutup mata seperti ikut meresapi apa yang dirasakan Sutan Mansur. “Apa yang dipikirkan oleh Mas Mansur itu juga yang dirasakan Sutan Mansur, sebaliknya apa yang dirasakan Sutan Mansur itu pula yang ada di pikiran Mas Mansur”, tulis Hamka.

Baca Juga:  Tan Malaka dan Madilog

Sutan Mansur semasa hidupnya memang telah menjadi soko guru para pemuda di Sumatera Barat saat itu. Tidak sedikit murid-muridnya berhasil dikader hingga menjadi tokoh pergerakan. Sebut saja Duski Samad (adik kandungnya) Abdul Malik Ahmad, Marzuki Yatim, Abdullah Kamil, Rasyid Idris Datuk Sinaro Panjang, Muhammad Zain Djambek, Saalah Yusuf Sutan Mangkuto, termasuk Hamka sendiri. Agus Hakim dalam “Kenang-Kenangan 70 Tahun Buya Hamka” menulis bahwa Sutan Mansur tidak segan-segan ikut duduk melantai sambil menikmati hidangan ala kadarnya dengan para pemuda yang diharapkannya menjadi kader bangsa dan agama.

Pengaruh Sutan Mansur di kalangan kader mudanya saat itu bisa dikatakan sangat kuat. Terhadap Abdullah Kamil, misalnya. Ia sempat menjadi orang yang getol mempropagandakan ideologi komunisme di kalangan teman sejawatnya. Saat itu Sutan Mansur termasuk orang pertama yang didekati karena mengingat pengaruhnya. Namun bukan harapan yang didapat Abdullah Kamil agar Sutan Mansur mendukung ideologinya, tetapi sebaliknya Abdullah Kamil sendirilah yang kemudian berbalik kembali mendukung pandangan mentornya.

Sutan Mansur memang pribadi yang sederhana. Tak jarang ketika orang bertandang ke rumahnya di Maninjau akan mendapati Sutan Mansur sedang menjalin jala atau memegang palu hendak memperbaiki sesuatu. Kebiasaanya menjala memang tidak pernah ditinggalkannya sekalipun saat itu ia telah dikenal sebagai pemimpin Muhammadiyah. “Bahkan saat sedang asyik menjala ikan sekalipun”, kata Agus Hakim, “Sutan Mansur tetap akan menyampaikan pesan-pesan penuh hikmah.”

Suatu saat Solichin Salam pernah mewawancarai Sutan Mansur terkait kehidupan Hamka. Solichin Salam coba mengorek sisi kehidupan Hamka semasa kecil yang dikenal nakal. Informasi itu coba dikonfirmasi lagi ke Sutan Mansur. Dengan santai Sutan Mansur menjawab: “nakal itu ada padanya (Hamka) di waktu kecil. Kalau anak kecil nakal, biarkan saja. Sebab kalau dewasa nakalnya itu akan membuat ia lebih berakal.”

Baca Juga:  Perbedaan Generasi: Antara Pengamatan dan Penghayatan (Review Esai Muhammad Natsir, di Majalah Prisma, 1976)

Ulama yang dikenal tidak pernah lepas dari Al-Qur’an dan kitab Fathurrahman ini mengenal Muhammadiyah saat mendengar langsung pengajian yang disampaikan KH. Ahmad Dahlan. Saat itu juga ia terkesima dengan kefasihan Ahmad Dahlan ketika berbicara Islam dan bagaimana membumikan nilainya ke tengah masyarakat. Menurut Sutan Mansur, selama ini yang dilihatnya dari ulama-ulama di Sumatera Barat hanya kepandaian dalam menerangkan hukum-hukum Islam, tetapi membumikannya lewat organisasi dengan manajerial yang rapi belum nampak. “Ulama di sana hanya sebatas memutuskan hukum zakat begini dan begitu, tetapi bagaimana zakat benar-benar diberdayakan pengelolaannya belum banyak dibicarakan”, tutur Sutan Mansur yang dimuat dalam majalah Panji Masyarakat.

Sejak saat itu hidupnya memang diwakafkan untuk Muhammadiyah. Ia pernah ditunjuk sebagai muballigh Muhammadiyah di beberapa daerah sepergi Aceh, Banjarmasin, Medan dan beberapa daerah di Sumatera Selatan. Pada kongres ke-19 tahun 1930 di Bukit Tinggi, Pimpinan Muhammadiyah kemudian memutuskan tentang pentingnya membentuk konsul di tiap karesidenan. Maka pada tahun 1931 ditunjuklah Sutan Mansur sebagai konsul wilayah Sumatera Barat. Puncaknya pada Kongres Muhammadiyah ke-32 tahun 1953 di Purwokerto, Sutan Mansur terpilih sebagai Ketua PP Muhammadiyah.

Saat terpilih sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sutan Mansur terpaksa harus hijrah dari Sumatera Barat ke Yogyakarta pada bulan Februari 1954. Saat itu ia disambut oleh ribuan warga Muhamamdiyah. Setelah melaksanakan salat zuhur di Masjid Gedhe Kauman, Sutan Mansur kemudian memberikan fatwa dan amanah kepada warga Muhammadiyah di serambi masjid. Banyak hal yang telah Sutan Mansur lakukan selama kepemimpinannya di Muhammadiyah. Penguatan administrasi organisasi dan penguatan ruh Muhammadiyah terutama di kalangan pimpinan Muhammadiyah menjadi program utama dalam masa kepemimpinan Sutan Mansur.

Baca Juga:  Dea Guru: Syaikh Zainuddin As-Sumbawi

Sutan Mansur meninggal di Jakarta pada 25 Maret 1985 dan dimakamkan di pemakaman Tanah Kusir. Beberapa tokoh turut melepas kepergian Sang Bintang Barat Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan