Tentang Islam Kepulauan

Revolusi teknologi-informasi telah melahirkan kultur baru dalam kehidupan masyarakat muslim Indonesia, yakni digital Islam. Sebagai ruang publik baru, digital Islam tak ubahnya pasar gelap yang menampung dan mentransaksikan segala jenis ideologi, pemahaman keagamaan, dan aktor-aktor baru dakwah Islam. Paling tidak, sejak awal dekade kedua abad 21 ini, digital Islam terus mengalami gelombang pasang. Narasi-narasi teologis-legalis yang skripturalis, yang bermuara pada cara pandang keagamaan yang keras, kaku, dan eksklusif dan sebagiannya transnasionalis kian mengalami pembiakan dan menjelma sebagai arus utama di lini masa media sosial.

Gejala itu menjadi semacam dentuman kemunculan tokoh-tokoh keagamaan baru, yang mewarnai wacana Islam Indonesia. Geliat mereka dalam perjalanannya berdampak pada terancamnya kemapanan otoritas keagamaan lama (tradisional). Akibatnya, beberapa tahun belakangan ini realitas Islam di Indonesia agaknya mengalami fragmentasi otoritas keagamaan.

Fenomena itu, kemudian mendapat reaksi dari kalangan tradisionalis, terutama Nahdlatul Ulama. Para pelajar dan intelektual muda NU mulai menyeriusi dunia digital. Mereka menciptakan media-media daring sebagai kanal untuk menghadirkan narasi tandingan. Narasi-narasi absolutis-eksklusif dilawan dengan konten Islam yang kontekstual dan inklusif. Upaya mereka mulai menampakkan hasil. Paling tidak dalam dua tahun belakangan, narasi Islam tradisionalis telah muncul memenuhi linimasa penikmat dunia daring Indonesia.

Bersamaan dengan itu, kemunculan jargon Islam Nusantara, dan dinamika politik belakangan ini menyediakan momentum untuk penguatan narasi tradisionalis ini. Islam Nusantara yang merupakan bentuk ekspresi ideologis Nahdlatul Ulama (Baso, Hasyim 2017) menempatkan Islam tradisionalis-Jawa sentris (NU) pada posisi hegemonik, membayangi narasi-narasi lokal non-Jawa. Islam Nusantara tampak seolah mengaburkan ekspresi Islam Indonesia yang sejatinya beragam, tumbuh sesuai konteks sosial dan lokus budaya di masing-masing kepulauan.

Kalangan modernis (Muhammadiyah) juga tak ketinggalan merespon gejala ini. Mereka memunculkan jargon ‘Islam Berkemajuan’. Tentu saja ini adalah artikulasi dari aspek modernitas dalam tipologi gerakan Muhammadiyah. Dengan jejaring yang sudah mengakar di tingkat nasional, tidak butuh waktu untuk Muhammadiyah mentransmisikan visi berkemajuan-nya ke daerah-daerah.

Dengan demikian, baik Islam Nusantara maupun Islam berkemajuan adalah representasi mazhab tradisionalis dan modernis yang bertumbuh di Jawa yang kemudian memperluas spektrumnya ke kepulauan-kepulauan luar Jawa. Dua tipologi ini lah yang menjadi arus utama narasi keislaman di Indonesia, bahkan melampaui sejarah Republik ini.

Kedua gerakan ini seringkali dipandang sebagai tiang penyangga utama bangsa. Tidak jarang kita mendengar kedua jargon tersebut digabungkan sebagai representasi keislaman Indonesia—Islam Nusantara Berkemajuan—sebagai narasi pemersatu bangsa. Idenya, jika NU dan Muhammadiyah bersatu dan kuat menopang bangsa, maka Indonesia sedang berada dalam jalur yang tepat.

Efek samping dari penguatan kedua narasi tersebut adalah munculnya watak penundukan ideologi yang berwawasan Jawa sentris. Islam di Jawa menjadi pusat, sementara Islam di Aceh, Sumatera, Sulawesi, Lombok, Kalimantan dan wilayah-wilayah lain di luar Jawa menjadi pinggiran; ini terlihat tidak berbeda dengan perspektif para orientalis klasik yang menempatkan Islam Timur Tengah sebagai pusat dan selainnya sebagai pinggiran.

Demikian pula halnya, dalam urusan kebijakan-kebijakan ekonomi-politik, luar Jawa selalu ditafsirkan dan dilihat dengan sudut pandang Jawa. Islam (di) Jawa, baik itu pengusung jargon Islam Nusantara maupun Islam Berkemajuan, acap kali dianggap representasi shahih dalam mendefenisikan Islam di Indonesia. Padahal, cara pandang semacam ini mereduksi kekayaan Islam yang tersebar dibanyak kepulauan Indonesia.

Dengan demikian, sudah saatnya menyingkap keragaman ekspresi dan narasi keberagamaan dan keberislaman masyarakat Indonesia melampaui narasi arus utama yang menghegemoni ini. Diperlukan upaya untuk memotret dan mewadahi beragam arketipe Islam Indonesia yang tumbuh dalam budaya, pandangan hidup, dan idiom lokal pada tiap-tiap kepulauan di negeri di bawah angin ini.

Semangat itulah yang dipegang oleh Islam Kepulauan. Asumsi dasarnya adalah bahwa Islam, sebagai agama mayoritas masyarakat Indonesia yang terus menerus dipraktikkan dan dimaknai pemeluknya, tentu punya dinamika dan artikulasi yang khas di dalam berbagai konteks dan lokus kebudayaan masing-masing kepulauan. Islam Kepulauan hadir sebagai media daring untuk menampung kisah, gagasan, narasi, dan ekspresi keislaman yang kaya dan multi-suara; meliputi aspek sejarah, sosial, pendidikan, gerakan keagamaan, politik, dan budaya dengan perspektif orisinil dari pinggiran sebagai titik berangkat.

Ide utama dari Islam Kepulauan adalah anti hegemoni. Islam Kepulauan berpegang kepada Bhineka Tunggal Ika dalam maknanya yang generik, bahwa perbedaan-perbedaan bukan untuk diseragamkan di bawah bayang-bayang sebuah entitas yang diposisikan lebih kuat dari entitas-entitas lainnya. Perbedaan-perbedaan ekspresi, pengalaman, dan narasi keagamaan Islam di Indonesia yang mengikuti keragaman budaya, suku, bahasa, dan etnis, diperlakukan secara seimbang. Dengan demikian, sebagai implikasi dari sikap anti hegemoni ini, Islam Kepulauan juga bersifat inklusif.

Dengan demikian, Islam Kepulauan tidak berafiliasi kepada organisasi masyarakat apapun, baik yang besar dan populer, maupun yang pinggiran di Indonesia. Islam Kepulauan bersifat terbuka terhadap semua organisasi-organisasi tersebut, dan menerima segala bentuk kontribusi dari semua kalangan.

Tentu saja sikap keterbukaan ini ada batasnya. Islam Kepulauan tetap di jalur Islam moderat, meskipun tidak merujuk kepada penafsiran dominan ataupun penafsiran politis yang dikendalikan oleh negara tentang apa itu Islam moderat. Narasi-narasi propaganda kebencian yang merusak bukanlah bagian dari keterbukaan Islam Kepulauan.